Saturday, 17 September 2016

Jika Anak Susah Tinggi, Coba Perhatikan Asupan Gizinya



Beberapa masalah kesehatan terkait pertumbuhan anak dapat didiagnosis sejak lahir. Namun dalam beberapa kasus, diagnosis baru bisa didapat setelah orangtua, dokter spesialis anak, atau guru mengamati bahwa seorang anak mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dari teman sebayanya.

Itulah mengapa, orangtua harus secara rutin melakukan pemeriksaan termasuk mengukur dan menargetkan pencapaian pertumbuhan anak selama masa tumbuh kembang serta meminta bantuan medis jika pertumbuhan anak menunjukkan tanda-tanda gangguan atau kemunduran.

Pada acara peringatan Hari Kesadaran Pertumbuhan Anak Internasional di klinik AP&AP Pediatric Growth and Diabetes Center, Jakarta, Kamis, 15 September 2016, Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) menjelaskan, kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan anak juga dapat mempengaruhi penglihatan, pendengaran, hati, paru-paru, dan tulang anak. Bahkan jika tidak diatasi dapat mengurangi tingkat harapan hidup.

Pertumbuhan yang terhambat juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis dan emosional anak, seperti anak yang lebih pendek sering menjadi korban bullying dan tidak percaya diri.

Masalah pertumbuhan anak bukannya tidak bisa diatasi, namun harus dicari tahu dulu apa yang menyebabkan masalah tersebut. Bisa hanya dengan memperbaiki pola makan hingga pemberian obat yang sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.

"Diagnosis yang terlambat akan memberikan beban fisik dan psikologis pada anak dan keluarga. Orangtua dan pengasuh memiliki peran penting dalam mengenali perubahan pola pertumbuhan anak, sehingga bila ada gangguan pertumbuhan dapat segera dilakukan diagnosis dan pengobatan tepat sejak dini," kata Aman.

Bermain Bersama Orang Tua Bisa Membuat Anak Lebih Sehat Dan Bahagia


Setelah sehari-hari sibuk dengan pekerjaan, di akhir pekan ini yuk sempatkan bermain sejenak bersama anak. Dengan bermain bersama orang tua, anak lebih bahagia dan bikin sehat lho.

Studi evaluasi Nestle LACTOGROW menunjukkan anak lebih bahagia setelah bermain bersama ayah dan ibunya. Bahkan kegiatan ini bisa mempengaruhi kesehatan anak.

"Ini karena ketika anak merasa bahagia, otak mereka akan berada dalam kondisi yang positif, yang nantinya bisa membuat otak anak mengirim sinyal baik ke sistem pencernaan," ujar pakar gizi medik dari Universitas Indonesia, Dr dr Saptawati Bardosono, MSc dalam media gathering Nestlé LACTOGROW Happy Date di Luna Negra Cafe, Plaza Bapindo, Citibank Building, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (17/9/2016).

"Sistem pencernaan yang sehat akan membantu penyerapan gizi menjadi lebih sempurna, di samping tentunya membuat anak semakin merasa nyaman dalam menjalankan aktivitasnya," imbuh perempuan yang akrab disapa dr Tati ini.

dr Tati yang terlibat dalam studi menuturkan karakteristik program ini berhasil antara lain karena mengintegrasikan kesehatan, gizi, pendidikan sosial dan perkembangan ekonomi. Selain itu bisa digelar sebagai kolaborasi antara pemerintah dan swasta, serta ada kontak langsung pada anak.

Nah, studi tentang tingkat kebahagiaan ini digelar sejak Februari lalu di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Makassar dan Medan. Hasil penelitian menyebut setelah bermain bersama anak, tingkat kebahagiaan ayah dan ibu langsung meningkat sebesar 18 persen. Bahkan setelah dua pekan, tingkat kebahagiaan ayah dan ibu mengalami kenaikan hingga 38 persen.

"Setelah dua minggu di rumah, tadinya kebahagiaan 40 persen, jadi meningkat lebih dari 20 persen. Begitu pula dengan pemanfaatan waktu bersama, memperlihatkan kasih sayang, juga ikatan hubungan yang lebih kuat dari 50 persen hingga 80 persen," tutur dr Tati.

Dalam bermain bisa diberikan aneka stimulasi pada anak. Nah, stimulasi ini berkontribusi pada perkembangan anak sampai dengan 90 persen. Namun stimulasi tidak cukup bila tidak didukung kecukupan nutrisi.

"Nutrisi anak harus lengkap, untuk energi yang bisa didapat dari makanan pokok seperti nasi, pasta atau kentang. Lalu dilengkapi juga dengan asam amino, asam lemak omega 3. Juga sayur dan buah," sambung perempuan berkacamata ini.

Selain itu, jangan lupakan probiotik di usus tetap tersedia. Karena probiotik bisa meningkatkan fungsi saluran cerna dan bisa meningkatkan kekebalan tubuh anak.

"Stimulasi tanpa nutrisi, hasilnya kurang optimal," ucap dr Tati.

Inilah 6 Tanda-Tanda Kanker Kelenjar Getah Bening


Mengenali gejala munculnya kanker sangat penting, agar cepat mendapat diagnosis oleh dokter. Pada kanker kelenjar getah bening atau limfoma, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai.

Dokter dari Divisi Hematologi Onkokogi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Dr.dr Andhika Rachman SpPD-KHOM mengungkapkan, setidaknya ada enam gejala yang bisa muncul.

"Setiap orang gejalanya bisa berbeda-beda. Tetapi bukan berarti muncul satu gejala, lalu langsung ketakutan dan mengira itu limfoma. Harus diperiksakan ke dokter," kata Andhika dalam diskusi di Jakarta, Kamis (15/9/2016).

Jika hasil diagnosis adalah limfoma, pengobatan medis harus segera dilakukan. Berikut 6 gejala limfoma seperti dipaparkan dokter Andhika.

1. Bengkak di daerah kelenjar getah bening

Kanker ini awalnya akan menimbulkan bengkak atau benjolan di daerah tubuh yang terdapat kelenjar getah bening. Umumnya muncul di sekitar leher, ketiak, dan pangkal paha.

"Belum tentu leher bengkak itu limfoma. Kalau limfoma, benjolannya biasanya lebih dari satu atau seperti bergerombol dan tidak terasa sakit," kata Andhika.

2. Penurunan berat badan

Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas juga perlu diwaspadai limfoma. Biasanya, penurunan berat badan lebih dari 10 persen dan setidaknya terjadi selama 6 bulan.

3. Berkeringat malam hari


Berkeringat malam hari yang menjadi gejala limfoma bukan karena melakukan aktivitas fisik. Pada pasien limfoma, bisa keluar keringat pada malam hari, meskipun udara dingin atau kamar memakai AC.

Hal ini disebabkan metabolisme sel yang terganggu. Terkadang disertai meriang dari malam sampai dini hari, hingga tubuh terasa gatal-gatal.

4. Demam

Banyak penyakit yang menimbulkan gejala demam. Namun, pada pasien limfoma, demam yang terjadi biasanya tidak terlalu tinggi, yaitu sekitar 37 derajat celsius dan tidak pernah lebih dari 38 derajat celsius. Demam pun akan hilang timbul.

5. Kelelahan

Pasien limfoma biasanya juga akan merasa sangat lelah atau lemah. Misalnya, napas menjadi pendek dan sulit bernapas saat tingginya aktivitas, padahal sebelumnya baik-baik saja.

6. Perut terasa penuh

Gejala lainnya, yaitu perut terasa nyeri atau kurang nyaman. Selain itu juga terasa penuh di perut. Jika beberapa gejala ini muncul terus-menerus, sebaiknya segera periksa ke dokter.


Jauhi Orang Tua Perokok Dari Anak Karna Bisa Beresiko Mengalami Infeksi Paru Saat Dewasa


Jumlah orang yang merokok di Indonesia sangatlah banyak dan bahkan cenderung semakin meningkat. Kita bahkan bisa dengan mudah menemukan anak-anak dan remaja, khususnya laki-laki yang sudah merokok sejak dini karena alasan terlihat lebih keren dan lebih jantan. Banyak orang tua yang bahkan masih dengan enteng menghisap rokok di depan anak-anaknya yang masih berusia bayi atau balita meskipun mereka tahu ada dampak bahaya yang bisa didapatkan sang anak. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan jika anak yang menjadi perokok pasif karena kerap terkena paparan asap rokok ternyata bisa mengalami infeksi paru saat beranjak dewasa nantinya.

Pakar kesehatan yang memimpin penelitian yang dilakukan di American Heart Association; dr. Geetha Raghuver menyebutkan jika tak hanya di Indonesia, jumlah perokok di Amerika Serikat juga sangatlah banyak dan ironisnya, semakin kumuh tempat tinggal seorang anak, maka semakin sering pula mereka cenderung terpapar asap rokok. Banyak alasan yang mendasari orang tua tetap merokok di depan anaknya, namun, seringkali menghilangkan stress menjadi yang paling sering dikemukakan. Sayangnya, hal ini membuat 24 juta anak dan remaja di AS menjadi perokok pasif yang ironisnya lebih sering terjadi karena orangtuanya merokok.

Penelitian ini sendiri dilakukan pada tahun 2012 dan diketahui bahwa sampel darah dari anak-anak yang menjadi partisipan dengan rentang usia 3 hingga 11 tahun ini menunjukkan adanya produk nikotin yang disebut sebagai cotinine sebanyak 41 persen. Pada usia remaja; 12 hingga 19 tahun, paparan ini memang turun lebih sedikit, yakni 34 persen. Namun, tetap saja angka ini sangatlah tinggi dan bisa menyebabkan berbagai penyakit berbahaya layaknya infeksi paru, asma, penyakit kardiovaskular, hingga resistensi insulin yang pada akhirnya memicu diabetes.

Sebuah pertanyaan pun langsung dikemukakan, jika anda adalah orang tua yang menyayangi anak anda? Apakah anda masih tega meningkatkan resiko anak terkena penyakit-penyakit berbahaya tersebut akibat dari paparan asap rokok anda?

Monday, 5 September 2016

Waspadai Benjolan Seperti Ini Bisa Jadi Kanker


Cukup untuk di waspadai berita yang di kutip dari detik dot com berikut,

Pertumbuhan sel tubuh yang bermutasi jadi ganas bila dibiarkan lama-lama akan berubah menjadi gumpalan tumor besar. Inilah yang disebut dengan kanker dan bila tumornya terjadi dekat dengan permukaan kulit ia dapat dirasakan bentuknya seperti benjolan.

Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Profesor Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, mengatakan namun tidak semua kanker dapat dideteksi dini dengan tanda benjolan. Dua jenis kanker yang bisa dilihat dari kehadiran benjolan ini contohnya adalah kanker payudara dan kanker kelenjar getah bening (limfoma).

Karakteristik benjolan yang merupakan tumor ganas tersebut dijelaskan lebih jauh oleh dr Aru umumnya tidak sakit, keras bila ditekan, dan menetap bila coba digerakkan.

"Dia biasanya tidak sakit, agak keras, bisa ada banyak nggak cuma satu, dan sulit untuk digerakkan dari dasarnya. Kalau kelenjar getah bening kan bisa kita gulung-gulung, dorong-dorong, ini enggak bisa dia udah nempel saja. Ini salah satu ciri tanda keganasan," kata dr Aru ketika ditemui pada acara temu media RetroRun di Artotel, Sarinah, Jakarta, Senin (5/9/2016).

Bila seseorang menyadari dirinya memiliki benjolan yang sebelumnya tak ada, dr Aru mengatakan tak perlu juga langsung panik mengira kanker. Sebagian besar kasus benjolan tersebut terjadi karena peradangan kelenjar akibat infeksi dan obatnya cukup dengan antibiotik.

Seseorang perlu curiga bahwa benjolan sebagai tumor ketika tak kunjung hilang dalam waktu lama. Selain itu perhatikan juga ukurannya setiap hari karena apabila terasa semakin membesar maka segera cari bantuan medis.

"Kalau ketemu benjolan pantau selama beberapa bulan ke depan. Kalau dia sudah nggak bergerak seperti nempel di sekitarnya maka kita harus curiga bahwa ini merupakan kejadian ganas," kata dr Aru.

dr Aru mengatakan untuk kanker jenis lain deteksi mungkin akan lebih sulit dilakukan karena tak ada tanda fisik yang terlihat jelas sebelum penyakit berkembang parah.

Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.

Dimasa Kehamilan Apakah Dibolehkan Minum Air Dingin?


Seperti yang ditulis oleh doktersehat dot com,

Disaat cuaca yang begitu panas, membuat kita sering kali dehidrasi. Minum air es merupakan cara yang tepat untuk memulihkan kondisi kita kembali. Tidak sekedar menghilangkan haus, tapi juga membuat tubuh kita menjadi segar. Terus bagaimana dengan ibu hamil yang minum air es? Apakah minum air es saat hamil dapat membuat bayi menjadi besar sehingga sulit untuk melahirkan? Simak pembahasannya dibawah ini.

Selama kehamilan, para ibu hamil sering mengalami gerah atau kelelahan sehingga ingin selalu minum air es. Namun sebagian dari ibu hamil mengkhawatirkan dan menghindari untuk tidak minum air es, karena dapat menyebabkan bayi menjadi besar, akibatnya bayi akan sulit untuk dilahirkan.

Sebenarnya, apa yang dikhawatirkan tersebut tidak ada dasarnya sama sekali. Minum air es tidak ada hubungannya dengan bayi akan menjadi besar dan sulit melahirkan. Tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk meminum air es, hal itu boleh asalkan jangan terlalu sering karena akan membuat tubuh harus lebih banyak membakar lemak atau kalori sehingga tubuh naik saat mencerna air dingin. Akibatnya ibu hamil akan mudah lelah karena kekurangan kalori.

Mengenai masalah ukuran bayi akan jadi besar saat minum air es, itu karena faktor penyakit turunan seperti kencing manis atau diabetes, bukan dari air es tersebut. Air es tidak membahayakan bagi ibu hamil dan juga janinnya, pada dasarnya cairan tersebut akan dikeluarkan manjadi urine. Yang membahayakan apabila air es tersebut dicampur dengan sirup. Kandungan gula berlebihan yang terdapat dalam sirup tersebut akan membuat ukuran bayi jadi besar. Selain itu bayi akan sulit keluar sehingga perlu dilakukan operasi ceasar.

Tidak hanya sirup saja yang mengandung gula berlebihan, tapi banyak jenis minuman maupun makanan yang mengandung kadar gula lebih dan itu perlu diwaspadai oleh ibu hamil, kalau bisa untuk mengurangi jumlah konsumsi gula dalam masa kehamilan. Hal yang perlu diperhatikan lagi, ketika setelah makan sebaiknya tidak minum air es karena akan memperlambat mencerna dan menyerap makanan. Apabila selesai makan disarankan untuk minum air hangat.

Sekarang sudah jelas, minum air es tidak membahayakan bagi ibu hamil. Kalau ada yang mengatakan kalau minum air es akan membuat ukuran bayi jadi besar, itu hanyalah mitos saja. Jadi, ibu hamil tak perlu khawatir lagi untuk minum air es.

Friday, 2 September 2016

Rutin Bercinta Ternyata Menjaga Kulit Makin Sehat Berseri Loh



Seperti yang di tuliskan didalam postingan kesehatan di kompas dot com,

 Jika selama ini Anda menghabiskan uang pada segala macam krim dan serum kecantikan demi menjaga kulit tetap kencang dan sehat, Anda mungkin tak lagi perlu mengandalkan krim-krim wajah tersebut. Pasalnya, pasangan Anda bisa membantu menjaga kulit sehat berseri.

Ini bukan berarti Anda harus membuang semua produk perawatan kulit yang sudah Anda beli, tapi menjaga kehidupan seks yang sehat juga sangat bermanfaat bagi kulit Anda.

Seperti aktivitas fisik yang intens lainnya, bercinta membantu meningkatkan sirkulasi darah dan oksigen ke kulit dan organ-organ lainnya. "Inilah yang mencerahkan kulit dan dan membuatnya nampak bercahaya," kata Dr Joel Schlessinger, M.D., seorang dermatolog dan kontributor RealSelf.

"Aktivitas seksual juga meningkatkan denyut jantung yang dapat membuat darah mengalir lancar."

Stres bisa berakibat buruk bagi kulit Anda. Hormon stres atau kortisol menyebabkan kerut di kulit bertambah, kata Elizabeth Lombardo, PhD, seorang psikolog klinis.

Melakukan hubungan seks secara teratur dapat mengurangi efek stres yang merugikan kulit, terutama jika Anda mengalami orgasme. Ada beberapa bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa saat orgasme, tubuh melepaskan estrogen yang meningkatkan kadar kolagen, kata Schlessinger. Kolagen adalah zat yang membuat kulit tetap kencang dan mengurangi kerutan pada kulit.

Bercinta bukan hanya baik untuk kulit Anda. "Penelitian telah menunjukkan bahwa seks juga meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap dan memetabolisme nutrisi secara efektif," kata Schlessinger. "Hal ini penting untuk kesehatan rambut dan kuku dalam jangka panjang."

Manfaat lain dari hubungan seks yang teratur akan membuat Anda terhindar dari insomnia dan tidur lebih nyenyak. Walhasil, Anda tampil lebih cerah dan bersemangat, termasuk kulit Anda nampak lebih sehat, keesokan harinya.

Saat bercinta, tubuh kita menghasilkan hormon oksitosin. Oksitosin ini yang membuat kita rileks, mengantuk sehingga lebih mudah untuk tidur, kata Nicholas Sieveking, M.D., seorang ahli bedah plastik di AS.

Jadi, jaga hubungan mesra dengan pasangan dan lakukan seks yang sehat dengan teratur setiap kali ada kesempatan untuk itu.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More